RSS

Perhitungan Untung-Rugi, Matematika yang Rumit

04 Feb

Banyak sekali contoh kebaikan sederhana di dunia ini yang semakin pudar. Besok lusa, saat anak kecil mulai melihat dunia, pindah dari kampung halamannya, mereka akan melihat lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan kecil yang hilang, digantikan kesombongan dan keserakahan hidup.
Saling mengirimi makanan, sayuran atau bahan makanan dari ladang; bertandang ke rumah tetangga untuk saling bertegur sapa; bergotong royong membantu; ringan hati meminjami uang, benda atau apa saja milik kita. Itu semua satu demi satu mulai pudar di kota-kota sana.
Mereka, bahkan boleh jadi kenal seseorang dengan jarak ribuan kilometer, tetapi empat tetangga di depan, belakang, kiri dan kanan mereka sendiri sayangnya tidak kenal. Mereka boleh jadi kenal seseorang antah berantah, tetapi saat ditanya rumah tetangganya yang hanya berjarak tiga rumah, mereka tidak tahu.
Padahal kita belum bicara yang lebih luas dari itu. Rasa peduli, kasih sayang dengan anak-anak sekitar, keinginan untuk membuat hidup lebih baik. Kita belum bicara tempat kita bekerja, tempat kita beribadah, tempat kita sekolah, tempat kita kuliah, termasuk tempat kita berbelanja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pasar misalnya, Jika kita memprotes cara berjualan yang baik, itu karena kita masih memahami pasar sebagai tempat jual beli. Untung- rugi. Mahal-murah. Kita belum memahami pasar sebagai bagian dari kehidupan kita, tempat untuk berbuat kebaikan, menebalkan rasa jujur dan prasangka baik. Bukankah kita juga tahu, agama Islam meneladani begitu banyak adab bertransaksi yang indah di pasar.
Jual beli itu dihalalkan. Siapa yang menjual dengan baik, memberikan barang yang benar, tanpa menipu, melebihkan timbangan dengan senang hati, memberi bonus, tambahan, niscaya dia mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat.
Masih saja kita akan memprotes, tidak mungkin akan mendapat keuntungan berlipat-lipat jika menjual dengan lebih murah. Sungguh memang tidak bisa diterima oleh nalar.
Itu karena yang kita hitung hanya keuntungan yang terlihat saja. Rasa senang yang muncul dari proses kebaikan itu tidak bisa dibeli dengan uang berapapun jumlahnya.
Untuk anak-anak, masih terlalu kecil untuk mengerti….. sayangnya, hari ini, esok-esok lusa, akan lebih banyak orang yang sudah dewasa, tahu urusan ini, tapi tetap berpura-pura tak mengerti.
Barang siapa yang membeli dengan santun, ringan hati melebihkan bayaran, tidak selalu menawar, niscaya bukan hanya barang yang berhasil dia beli, dia sejatinya juga telah mendapatkan harga yang lebih murah.
Sekali lagi masih mengajukan protes, mana mungkin mendapatkan harga lebih murah jika tidak ditawar.
Kenapa tidak? Itu bisa terjadi jika pedagang sudah datang dengan pemahaman yang baik, menjual dengan harga yang baik, tidak menipu. Maka buat apa lagi pembeli harus menawarnya.
Memang aneh nampaknya, Ini jadi matematika yang rumit. Karena kita tidak paham dengan hitung-hitungan ini. Tidak mengerti trik sejati berdagang itu justru kebalikan dari yang dilakukan banyak orang…

“Semoga bisa menjadi renungan kita semua, tidak bermaksud menyindir siapa pun, hanya ingin berbagi dari kisah yang saya dapat”, ungkap Arif.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Februari 2013 in Ingin Tahu, Nasihat dan Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: