RSS

Arsip Kategori: Nasihat dan Renungan

Siapakah Gerangan sosok Bayu Gawtama

Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman memilih buku bacaan. Buat apa? Saya mencoba mencari buku bacaan sebagai sarana memperluas wawasan, menambah semangat, memberi inspirasi sekaligus sebagai upaya mengembangkan diri. Hal menarik yang terjadi adalah saya menemukan buku berjudul “Berguru pada Kehidupan” yang ditulis oleh Bayu Gawtama.

Lalu apa anehnya dengan buku itu? ups…. tunggu dulu… saya bukan akan mengulas mengenai isi buku tersebut. Lain kali saya ulas sendiri di postingan lain. Saya tergelitik dengan sebuah pertanyaan lain yang menarik menurut saya untuk disampaikan, yaitu “Siapakah gerangan sosok Bayu Gawtama ?”. Jujur saya sendiri juga belum tidak kenal beliau. Apa sih menariknya? hahaha… pasti bingung kan.

Saya ingin sampaikan sedikit pesan moral di sini. (eh sudah pantas belum ya berpesan, setidaknya buat penulis pribadi lah). Seringkali kita hanya mau menerima pesan atau cerita atau tulisan dengan memberikan syarat bahwa yang berbicara harus kompeten, terkenal, tokoh dan gelar wah lainnya. Sebenarnya tidak salah sih melakukan hal tersebut. Namun setelah saya nekat buat baca buku karangan Bayu Gawtama ini banyak hal yang saya pelajari tentang kehidupan ini. Kisah-kisah sederhana yang disampaikannya bersumber dari pengalaman pribadi beliau. Mungkin beliau belum menjadi tokoh, namun menurut saya tulisan beliau pantas untuk diambil hikmahnya. Jadi kalo boleh saya simpulkan bahwa janganlah kita melihat suatu pesan dari orang yang menyampaikan, namun lihat dan pahami apa yang disampaikannya. Jika memang benar adanya, meskipun yang menyampaikan seorang preman atau seorang pemulung pun setidaknya kita bisa ambil hikmah dari apa yang disampaikan. Begitu juga dengan apa-apa yang pernah saya sampaikan di blog ini. Karena sang penulis sendiri memang bukan tokoh apa-apa. Penulis senantiasa berharap bisa memberi manfaat meski lewat tulisan. amin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2014 in Nasihat dan Renungan

 

Berhenti Sejenak dan Merenung

Belum hilang betul dalam ingatann beberapa paradoks yang ada dalam kehidupan.

Paradoks yang belum bisa dimahami dan diterima sepenuhnya oleh alam pikiran saya.

Dengan memberi, maka kita kan menerima.

Dengan mengajarkan, kita akan banyak belajar.

Dengan menasehati, maka kita akan memperoleh nasehat.

Dengan menolong, maka kita akan memperoleh pertolongan.

Dengan memaafkan, maka kita akan memperoleh maaf.

Berharap suatu saat, waktulah yang akan menjelaskannya.

Tiba-tiba ingin rasanya sejenak berhenti, melihat sejenak, sampai di mana kita berada. Apakah sudah benar lintasan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Muncul satu paradoks lagi perjalanan pergi untuk mempersiapkan bekal menuju pulang.

Tanpa disadari kita akan pulang, pulang ke alam kubur sebelum nantinya menuju alam akhirat. Sudahkan kita mempersiapkan bekal buat pulang? mari kita berhenti sejenak dan merenung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 April 2014 in Nasihat dan Renungan

 

Boleh Dogn Salah

Sebuah ulasan menarik oleh Irfan Amalee pada bukunya dengan judul yang sama, yaitu mengenai kesalahan. Menurut saya menarik karena di saat banyak orang mengulas tentang kebenaran (atau parahnya cenderung menyalahkan orang lain yang tidak sama) , namun di sini malah mengulas kesalahan. Tidak salah bukan?

“Jika kamu melakuan sebuah kesalahan, jangan terlalu menghukum diri kamu sendiri. Maafkanlah dan perbaikilah.”

Sebuah kutipan yang mudah nampaknya namun tak mudah untuk dilaksanakan sepenuhnya. Tapi wajarlah, kalo manusia itu tempat salah dan lupa. Silahkan direalisasikan dengan cara masing-masing sesuai kesalahan masing-masing, dengan style masing-masing.

“Adakalanya kesalahan itu membantu kita sampai ke suatu tujuan. Sebab kesalahan yang menyisakan kehinaan dan kerendahan, lebih baik daripada ketaatan yang menyisakan keangkuhan dan kesombongan” (Syaikh Athaillah)”

Si Gentleman berani mengakui kesalahan, kemudian minta maaf dan memperbaiki kesalahan.

Meminta maaf menguji keberanian kita, memberi maaf menguji kemurahhatian kita”

Sejauh apa pun kamu sudah menempuh jalan yang salah, berbaliklah sekarang juga – Rheinald Kasali

Ingat pesan sahabat, di luar buku tadi. sebuah kalimat sederhana :

“Bicaralah dengan otak dan hati nurani, mengingatkan orang tanpa harus menyakiti, menegurnya tanpa harus menghina.”

Jadi, masih takut salah? Bolehlah, tapi tetaplah menyadari sifat kemanusiaanmu yang merupakan tempat salah dan lupa, namun jangan lupa harus selalu ready stok untuk memberi maaf.

 

 
Kutipan

Dakwah itu mengajak bukan menginjak, merangkul bukan memukul, memeluk bukan menekuk, munculkan harapan bukan malah memupuskan.

Dakwah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Juli 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Tag:

Gagal Bangkit Lagi

Kita pernah DILUKAI dan mungkin pernah MELUKAI. Tapi karena itu, kita BELAJAR tentang bagaimana cara MENGHARGAI, MENERIMA, BERKORBAN, dan MEMPERHATIKAN.

Kita pernah DIBOHONGI dan mungkin pernah MEMBOHONGI, tapi dari itu kita BELAJAR tentang KEJUJURAN.

Andaikata kita tidak pernah melakukan KESALAHAN mungkin kita tidak pernah belajar arti dari MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali. Namun, ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan yaitu BELAJAR dari MASA LALU untuk hari ESOK yang lebih baik.

Hidup itu proses, Hidup adalah belajar.

Tanpa ada batas umur, Tanpa ada kata tua.

Jatuh berdiri lagi, Kalah mencoba lagi, Gagal bangkit lagi, Sampai Allah SWT memanggil “Waktunya Pulang”

 

(Siti Rohyana, Hadila Edisi 64,Oktober 2012 halaman 3)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Juli 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Tuhan, Maaf, Kami Masih Kotor

Tuhan, Maaf, hatiku masih kotor
Takwaku sering longsor
Imanku sering pengkor
Syukurku sering ngeloyor
Ikhlasku masih bocor
Jiwaku masih kopyor
Angkuhku masih bongsor
Kalo doa kayak orator
Padahal ibadah jarang setor
Menilai sesama kayak auditor
Sedangkan diri sendiri tidak pernah dimonitor
Dalam kebajikan menjadi pengekor
Dalam kejelekan jadi pelopor
Maafin Tuhan, ternyata kami masih kotor

(Sumber : Rif’an, Ahmad Rifa’i. 2012. Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati, Jakarta : Elex Media Komputindo.)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Maret 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Aku Sering Enggan

Aku sering enggan
Ikut ramai-ramai sembahyang
Sebab sehabis mengucapkan akhir salam
Orang bergegas pulang
.
Tak ada suasana pergaulan
Dengan Tuhan
Tak ada kesan bahwa ke mesjid
Ialah bertamu dan bersujud
.
Aku sering enggan
Ikut ramai-ramai sembahyang
Sebab ia menjadi satu-satunya ukuran
Baik buruk dan iman seseorang

(Yogya 77, Emha Ainun Nadjib)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Maret 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Syukuri Apa yang Ada (1)

 

 

 

Masing-masing manusia memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Suka duka, sedih senang, diterima atau ditolak tergantung tiap orang yang menyikapi. Ketika melihat kehidupan orang lain, sering seseorang terpancing untuk membandingkan dengan dirinya. Merasa kurang beruntung, menderita atau semacamnya. Padahal orang yang dilihat tersebut belum tentu merasa senang dan mungkin merasakan hal sama ketika melihat orang lain. Istilah jawanya hidup itu “sawang sinawang”. Saling melihat dan saling memuji keberuntungan orang lain dan merasa kurang. Salah satu cara untuk menghindari perasaan seperti itu adalah dengan bersyukur. Agar hidup terasa lebih indah.

Jadi teringat pesan dari mbak Farah. Berikut screen shoot-nya. Super sekali. semoga bermanfaat.

Pesan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Februari 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Tag: ,

Video

Aku Peduli Indonesia

Sudut pandang menentukan makna terhadap sesuatu. Akankah memaknai sebagai umpatan, keluhan, atau sebagai suatu optimisme dan keyakinan akan suatu kejayaan bangsa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Februari 2013 in Nasihat dan Renungan

 

Kekerabatan (Gayeng Semarang, Suara Merdeka)

Berikut saya ketik ulang sebuah artikel dari surat kabar Suara Merdeka, saya lupa tanggalnya karena sudah terlanjur dipotong, niatnya mau dibikin kliping. Menurut saya menarik apa yang disampaikan oleh penulisnya tentang kekerabatan.

Kekerabatan
(oleh : Eko Budihardjo)
Kulanuwun. Tatkala diminta menjadi staf ahli Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk menyusun penataan ruang kepulauan, saya agak terkejut tetapi juga merasa tersanjung. Ingatasnya banyak planolog andal yang masih aktif di Jakarta (UI), Bandung (ITB), Yogya (UGM), kok saya.planolog yang sudah purnatugas dari Semarang (Undip), yang ketiban pulung ya?

Urus punya urus, ternyata waktu seminar nasional “Smart Green City Planning” tahun silam, ada seorang tokoh Bappeda Kepri kesengsem atau terpukau pada paparan makalah saya. Rupa-rupanya dia lantas lapor bosnya. Ada catatan penting di sini; pelapor itu, bernama Mbak Evy, adalah alumnus Undip. Dan yang dilapori, bernama Mbak Venni, adalah alumnus UGM. Nah, saya kan alumnus UGM yang pernah menjadi Rektor Undip. Jadi ada nuansa “persekongkolan”, “primordialisme”, “kolusi”, namun dalam arti yang positif. Saya sih lebih suka menyebut dengan persahabatan, persaudaraan, atau lebih tepat lagi kekerabatan.

Berdasarkan prinsip hidup “tangkap setiap peluang yang lewat”, tentu saja saya langsung menyatakan siap, dengan satu syarat. Syaratnya, saya boleh memilih seorang asisten untuk membantu saya melaksanakan tugas tersebut. Begitu memperoleh persetujuan, saya langsung menunjuk Prof Edy Darmawan sebagai asisten. Di sini pun nampak ada nuansa kekerabatan, karena Pak Edy adalah bekas murid saya yang dulu pernah bareng-bareng moonlighting alias ngobyek di suatu biro konsultan ternama. Dia juga mengaku terkejut dan tersanjung serta menyatakan siap membantu

****

Memang kehidupan ini penuh kejutan yang sering tak terduga. Seperti yang diceritakan Pak Soesmono, mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah, anggota Paguyuban Adiyuswa, berikut ini.

Terkisah seorang Ustadz dimintai tolong mengusir tiga hantu dari sebuah rumah tua. Ustadz pun datang, membaca Surat Yasin sambil konsentrasi memejamkan mata. Begitu selesai berdoa dan membuka mata, dua hantu langsung pergi menghilang. Hantu yang satu lagi bertahan di tempat.

Sang Ustadz ganti taktik, membaca keras-keras Ayat Kursi. Namun si hantu bandel, bergeming. Dibacakan lagi surah lain dengan lebih keras, tetap tidak berhasil. Eh, tiba-tiba dua hantu yang semula menghilang datang kembali menjemput teman mereka yang bertahan, sambil berkata,”Maaf, Pak Ustadz, teman saya yang satu ini tuli, tunarunggu, tidak bisa mendengar bacaan Ustadz.”

Kejutan kan?

Kembali ke masalah kekerabatan. Semula para pejabat tinggi Kepri ingin studi banding ke Abu Dhabi atau China. Saya lantas usul, sebaiknya belajar ke Jepang saja, yang sama-sama negara kepualauan dengan 6800 pulau. Kebudayaannya juga mirip. Namun yang tidak kalah penting, Undip sudah punya bekal berupa jaringan dengan Kyoto University dalam bidang energy science. Dan lebih penting lagi, menatu saya, Dr Nuki Agya Utama MSc, bekerja di sana, bisa jadi “liaison officer” alias perwira pendukung. Usulan saya kontan diterima. Jadilah kami berdelapan ke Kyoto, dijamu makan siang dan berbincang lama dengan Prof Kobayashi beserta seluruh gerombolannya. Saya mempraktikkan kaidah mixing bussiness with pleasure . Tugas utama seminggu untuk urusan bussines kerja sama. Saya perpanjang seminggu lagi di Kyoto untuk urusan pleasure, bercengkerama dengan anak-cucu-menantu tercinta.

****

Kekerabatan adalah faktor kunci dalam kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Manakala hidup ini hanya untuk diri sendiri, maka kehidupan akan terasa sempit, terbatas, singkat, dan kurang bermakna. Namun jika kita hidup juga untuk orang lain, kehidupan akan terasa luas, tanpa batas, panjang, dan penuh makna.

….

Liding dongeng, marilah kita bina dengan baik kekerabatan dengan kawan, bawahan, dan atasan kita. Insya Allah, bertambahlah kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, dan usia kita.

Sakmanten rumiyin atur kula, kepareng, nuwun.

 
 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.