RSS

Kenapa namanya Widya Kelana

Pertanyaan yang selalu terucap setiap kali penerimaan mahasiswa baru. Sampai bosan saya menjawab. Daripada ngapalin mending saya tulis saja “Dongeng dari Solo”.
Berikut adalah kutipan surat elektronik dari pendiri Widya Kelana, silahkan dinikmati.
Mengingat sejarah berdirinya Widya Kelana, berarti kembali mengingat kejadian-kejadian lebih 35 tahun lalu.(red-saat ditulis tahun 2011) Tepat tanggal berdirinya saja saya lupa, barangkali temen-temen angkatan 76 (lulus SMAN 1 akhir tahun 1975) yang ingat? Tempat lahirnya saya ingat betul wong itu tempat ‘kost’ saya, yaitu Jalan Banteng Dalam, nomornya lupa, ancer-ancernya dibelakang RS Muhamadiyah Jalan Banteng Bandung. Dulu sih rumah ini ‘mewah’ alias ‘mepet sawah’, tapi apa ya masih ada sawah disitu sekarang. Kalau dari rumah sakit Muhamadiyah rumah ini dikanan jalan, melewati rumah ini bisa tembus jalan lodaya, kalau tidak salah sekarang ada kantor penerbitan surat kabar di jalan itu.
Lalu, apakah tempat itu jadi secretariat Widya Kelana, saya tidak yakin, lha wong saya sebagai ‘ketua terpilih’ untuk tahun 1976-1977(8?)ini orangnya belum melek-organisasi waktu itu, di SMA cuma maen teater jadi sutradara dan seterusnya, yang namanya OSIS itu tidak pahamlah. Juga Mas Solichul Hadi (Dedek) sebagai wakil ketua Widya Kelana 1976-1977(8?), walau di SMAnya sama-sama jadi Ketua Kelas, namun karena kesibukan beliau dan saya, saya koq kurang yakin ada perangkat-organisasi seperti layaknya, ada AD-ART,secretariat, sekretaris, bendahara dan lain2. Ajaib bukan? Untuk periode 1977(8?)-….., mungkin Mas Dedek bisa cerita lebih banyak, wong saya tuh lupa, apa waktu itu pakai acara PILKETU lagi atau tidak, kemudian ada ‘sertijab’ apa tidak, apa sekedar ‘turun ranjang’ saja, setelah saya lengser kemudian diganti Mas Dedek, atau bahkan ada ‘mosi tidak percaya’ terhadap diri saya, hahaha…….
Meskipun nih organisasi AJAIB, namun bukan tidak efektif lho, buktinya sampai sekarang masih ada organisasi Widya Kelana, bahkan saya surprise ketika ‘pulang kampung’ tahun 2003, mendirikan dan memimpin solo_radio, saya menerima tawaran kerja-sama dari Widya Kelana yang ada kaitannya dgn Bandung-ITB-SMAN1. Saya yakin ini organisasi yang kami dirikan waktu itu, saya ingat betul karena nama ‘Widya Kelana’ itu walupun kesepakatan kami waktu itu, namun itu usulan saya. Sebagai ‘barudak gaul’ waktu itu,. Dan per’gaul’an waktu itu sedang keren-kerennya Guruh Sukarno Putra dan lirik-lirik berbahasa sansekerta, maka saya usulkan nama itu, yang di’maksud’kan berarti ‘Pengelana/pengembara yang mencari ILMU’ (lha adik anggota Widya Kelana yg menemui saya waktu itu di kantor solo_radio ga tau, apa arti Widya Kelana itu), nama itu saya usulkan biar beda gitu loh dengan organisasi lain yang biasa pakai nama ‘Perkumpulan Mahasiswa ini/itu….’ Atau ‘Keluarga Mahasiswa ini/itu…’ gitu deh !
Lalu hal apa yang menjadi latar belakang terbentuknya Widya Kelana ini? Atau motif apa yang menjadikan alumni-SMAN1 Surakarta yang kuliah di Bandung mau bergabung dalam organisasi ini? Masing-masing ‘pendiri’ waktu itu tentu punya cerita sendiri. Bagi saya, barangkali perasaan senasib sepenanggungan bersama-sama dalam Kereta Mutiara Selatan atau Bis Bandung Expres/Rajawali dll buat mendaftar Ujian Masuk serta Test (maklum jaman itu belum ada Skalu apalagi Sipenmaru), serta rasa bangga sebagai alumni SMAN1 (selama SMAN 1 ada, jumlah mahasiswa yang diterima di ITB paling banyak masa itu, yaitu 33(?) orang…..dan 11 diantaranya berasal dari kelas yang saya Ketua-I, makanya dalam voting pilihan ketua Widya Kelana saya menang, hahaha….).
Persaaan senasib sepenanggungan itu kembali menguat ketika kita harus antri regrestrasi di ITB dan yang paling memprihatinkan adalah saat harus mengikuti Orientasi Studi selama semingguan itu. Saya dan banyak teman yang lain, belum punya tempat kost yang tetap, maklum baru kali pertama itu di Bandung, namun ada beberapa kawan yang punya kakak sudah kost di Bdg, sehingga dapat ‘menampung’ sementara kami yang ga punya ‘sanak kadang’ di Bandung ini. Kepada kakak angkatan inilah kami numpang untuk mengikuti kegiatan wajib pra-kuliah. Mungkin karena inilah yang menginspirasi teman2 untuk berorganisasi dan berprogram utama : ‘membantu’ adik-adik alumni SMAN1 agar lebih nyaman tinggal dan mencari ilmu di Bandung, selain dimungkinkannya anggota Widya Kelana dapat saling asah-asih-asuh serta bersilaturahmi sebagai Alumni SMAN-1 Ska.
Dalam ‘pemerintahan’ saya, program besar yang kami lakukan adalah bikin ‘sarasehan’ di SMAN-1 Ska, member informasi bagaimana studi di Bandung, khususnya ITB serta mensosialisasikan tempat-tempat ‘penampungan’ sementara bagi adik-adik yang akan studi di Bandung. Maklum, yang disebut sebagai anggota Widya Kelana waktu itu adalah alumni SMAN1 Ska lulusan 1975 (mulai kuliah 1976) yang kuliah di Bandung (33 orang ITB, 3 orang lainnya non ITB).
Masih dalam masa ‘pemerintahan’ saya, mungkin karena Widya Kelana telah lumayan ‘eksis’, maka saya ‘diundang’ oleh alumni-senior (angkatan 70 dan sebelumnya) dalam rangka ‘sosialisasi’ Kasmaji serta rencana ‘pembentukan’ biro-Bandung (?). Logikanya, karena Widya Kelana adalah berisi alumni SMAN-1 Ska, maka ya otomatis menjadi bagian dari ‘Kasmaji’, ya saya nderek saja, itung-itung Widya Kelana bagian dari Kasmaji, khusus angkatan 76 yg ada di Bandung, wong ya waktu itu kami tidak berniat untuk menjadi wadah satu-satunya bagi alumni SMAN-1. Visi misi kami tidak kesana, sehingga kami tidak ‘offensif merekrut’ angkatan-angkatan sebelumnya untuk bergabung di Widya Kelana. Tujuan kami ya seperti diatas itu, membantu adik-adik alumni supaya ‘ga sampai kleleran’ ketika mencari ilmu di Bandung. Jadi yang kami lakukan sebatas ‘lintas universitas’ saja.
Berkaitan dengan keanggotaan Widya Kelana sekarang, menurut cerita adik-alumni yg bertemu saya dikantor 6 tahunan lalu, adalah alumni SMA se SoloRaya yang kuliah di ITB, menurut saya ini lebih baik jika visi-misinya masih seperti yang kami ‘canangkan’ tahun 1976. Tentunya ga perlu ‘sungkan’ lagi sama Kasmaji, hehehe….. Istilah saya, Widya Kelana telah bermetafor dari lintas-universitas menjadi lintas sekolah/almamater. Nah kalau sekarang Widya Kelana ITB saja, barangkali menarik kalau pengurus yang ada sekarang memprovokasi cah-cah solo(raya) yang kuliah di universitas lain di Bandung. Perlukah? Kalau tidak perlu juga tidak masalah. Yang sekarang inipun membuat saya pribadi bangga koq (lihat pedhet-wijaya.blogspot.com/2007/05/kenangan-semasa-sma.html.)

So…….Go Ahead…..LANJUTKAN
Salam dari Kampung Halaman

Pedhet Wijianto

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juni 2013 in Ingin Tahu

 

Tag: ,

Masih Enggan Memberikan Bantuan

Entah kenapa seringkali diri ini diberi kesempatan untuk memberi bantuan kepada orang lain, baik di kenal maupun yang tidak dikenal. Tidak dikenal kok bisa ngasih bantuan???? mungkin saja, misal menyingkirkan gangguan di jalan (batu/pohon), kan tidak kenal dengan yang nanti bakal lewat selanjutnya. Padahal ada lho perintahnya, yang merintahin ga nanggung-nanggung. Langsung ALLAH melalui firman-Nya di Quran Surat Al Maun.

Kurang lebih di surat itu mengingatkan kepada manusia (yang seringnya lupa), seperti apa ciri orang yang mendustakan agama dan celaka bagi orang yang sholat, namun melalaikan sholatnya.

Satu-satu deh, dari ciri orang yang mendustakan agama.

Apa sih cirinya: pertama menghardik anak yatim, seringkali dengan dalih kita takmampu memberi apapun lantas menghardiknya, padahal di ayat berikutnya terdapat penjelasan, ya kalo kita tidak mampu ya yang sopan lah. Kalo ada pertanyaan, kenapa harus saya sih, kan saya perlu dibantu juga kaya mereka?? Jawabannya adalah dengan mendorong atau mengajak orang lain untuk memberi makan orang miskin. Kalo diri ini merasatak mampu maka anjurkan/ ajaklah orang lain. Jadi kalo boleh disimpulkan, kalo kita mampu ya bantulah, kalo tidak anjurkanlah orang lain, jangan menghardik anak yatim.

Berikutnya mengenai orang yang celaka meski sudah sholat, karena melalaikan sholatnya. Ini saya masih termasuk, yang suka menunda-nunda mengerjakan sholat. Kemudian yang sholat namun berbuat riya ingin dipuji orang lain. Lalu yang terakhir yang enggan membayar zakat atau memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Jadi masih enggan buat memberikan bantuan???

Terjemah surat Al Maun.

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
4. Maka celakalah orang yang sholat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya (927),
6. yang berbuat ria (928)
7. dan enggan (memberikan) bantuan. (929)

(927) : orang yang tidak menghargai serta melalaikan pelaksanaan waktu-waktu sholat.
(928) : ria adalah melakukan perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah, melainkan untuk mencari pujian atau kemasyuran di masyarakat.
(929) : sebagian mufasir mengartikan dengan “enggan membayar zakat”.

Semoga bisa jadi pengingat buat penulis khususnya dan pembaca umumnya.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juli 2014 in Uncategorized

 

CitiTrans

Citi Trans Executive shuttle

Call Center : 0804 1111 000

Daftar Pool dan Jadwal keberangkatan:

BANDUNG :

Dipati Ukur

Jl. Dipatiukur No.53 (Sebelah SPBU Dipati Ukur)

Tujuan Bintaro | Central Park | Fatmawati | Kelapa Gading | Semanggi Setiap Jam dari pukul 04.00-22.00.(Hari Jumat dan Minggu sampai pukul 23.00)

Cihampelas Walk

Mall Cihampelas Walk Extention GF 06,

Tujuan Kuningan & Thamrin City | Soekarno Hatta International Airports. Setiap Jam dari pukul 04.15-21.45

Pasteur

Jln. Dr. Djunjunan No. 119 Pasteur.

Tujuan Bintaro | Central Park | Fatmawati | Kelapa Gading | Kuningan | Semanggi | Soekarno Hatta International Airports. Check Point dari Cihampelas Walk dan Dipati Ukur.

JAKARTA :

Semanggi

Grand Lucky SCBD Jln. Jendral Sudirman Lot 12 kav 52-53

Tujuan Dipati Ukur Setiap Jam dari pukul 05.00-22.00.(Hari Minggu mulai pukul 06.00)

Fatmawati

Graha Satria 1st Floor Jln. RS. Fatmawati No.5

Tujuan Dipati Ukur Setiap Jam dari pukul 05.00-22.00.(Hari Minggu mulai pukul 06.00)

Kelapa Gading

Jalan Boulevard Barat Blok LC VII No.52

Tujuan Cihampelas Walk Setiap Jam dari pukul 04.45-22.45.(Hari Minggu mulai pukul 05.45)

Bintaro

Ruko Victoria Blok DD No. 9 Sektor 3A,

Tujuan Dipati Ukur Setiap Jam dari pukul 05.00-22.45.

Kuningan

Pasar Festival GF D03 Pintu Utara Zona 5

Tujuan Cihampelas Walk Setiap Jam dari pukul 04.45-22.45

Central Park

Mall Central Park Laguna Lobby – Jln. Let. Jend. S. Parman kav 28

Tujuan Dipati Ukur Setiap Jam dari pukul 05.00-23.00.(Hari Minggu mulai pukul 06.00)

Soekarno Hatta International Airport (SHIA):

Terminal 1B, 1C, 2F & 3

Tujuan Cihampelas Walk. Setiap Jam dari pukul 04.45-22.45.

 

Sumber : http://cititrans.co.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2014 in Jejak Petualangan

 

Tag:

Kekuatan Cinta Seorang Guru

Apa yang lebih berarti dibandingkan dengan keikhlasan dan kepercayaan, Cinta. Kata yang dilahirkan dengan sejuta makna. Banyak definisi dan banyak pula interpretasi, namun hakikatnya cinta itu memiliki pelazimannya tersendiri, bahwa mencintai siapapun dan apapun pasti membenihkan kesetiaan dan pengabdian. Menjadi seorang guru memerlukan kekuatan cinta dalam menghadapi perkara yang di luar jangkauan.

Sesungguhnya tidaklah mudah memikul amanah untuk menjadi seorang guru. Melalui sentuhan seorang guru maka terlahirlah barisan profesi yang jauh lebih wah dari namanya sendiri. Naiflah jika menjadi guru yang hanya berbekalkan teori pedagogi semata-mata.

Sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan cinta yang terlahir dari hati yang tulus mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Uniknya cinta, ia selalu mempunyai jalannya sendiri untuk membebaskan kita dari belenggu permasalahan. Maka, jika guru memiliki cinta dalam dirinya, pada detik itu pula ia akan mampu mengubah seorang murid yang pemalas menjadi rajin, murid yang pasif menjadi aktif, murid yang nakal menjadi disiplin, dan murid yang sangat manja menjadi murid yang mampu untuk berdikari. Mungkin untuk sampai ke tahap itu, guru akan melalui sebuah perjalanan yang sukar, terjal dan tandus. Perjalanan itu pasti seringkali mengganjal kesabaran untuk mencapai telaga ketulusan. Seringkali guru terjerat dalam tantangan yang sering menghampar ke laut perasaan seorang guru. Kekurangan prasarana sekolah, jarak jauh juga melelahkan, tekanan kerja yang membebankan, serta kepayahan dalam menggali potensi murid yang sudah terbalut selimut malas dan keras kepala selalu menguras sabar dan rasional.

Saat inilah guru mulai mempertaruhkan cinta guru pada sebuah profesi yang mendaulatkan perasaan guru, namun seganas apapun ombak yang menerjang jika guru bertekad kuat, sekuat mentari menyinari bumi sudah pasti aral yang melintang, dapat kita tempuhi juga. Sesungguhnya guru adalah adiwira yang menggerakkan sumber manusia ke arah satu enigma perubahan positif. Janganlah pernah berputus asa dalam usaha mengasah belakang parah, karena guru adalah lentera penggerak yang menghasilkan Transformasi Pendidikan Nasional.

Tanamkan niat pada diri, cinta sejati dan keikhlasan pada profesi ini. Semoga setiap usaha guru dalam melaksanakan baktinya ini mendapat limpahan dan berkah dari Allah. Amin.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2014 in Uncategorized

 

Siapakah Gerangan sosok Bayu Gawtama

Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman memilih buku bacaan. Buat apa? Saya mencoba mencari buku bacaan sebagai sarana memperluas wawasan, menambah semangat, memberi inspirasi sekaligus sebagai upaya mengembangkan diri. Hal menarik yang terjadi adalah saya menemukan buku berjudul “Berguru pada Kehidupan” yang ditulis oleh Bayu Gawtama.

Lalu apa anehnya dengan buku itu? ups…. tunggu dulu… saya bukan akan mengulas mengenai isi buku tersebut. Lain kali saya ulas sendiri di postingan lain. Saya tergelitik dengan sebuah pertanyaan lain yang menarik menurut saya untuk disampaikan, yaitu “Siapakah gerangan sosok Bayu Gawtama ?”. Jujur saya sendiri juga belum tidak kenal beliau. Apa sih menariknya? hahaha… pasti bingung kan.

Saya ingin sampaikan sedikit pesan moral di sini. (eh sudah pantas belum ya berpesan, setidaknya buat penulis pribadi lah). Seringkali kita hanya mau menerima pesan atau cerita atau tulisan dengan memberikan syarat bahwa yang berbicara harus kompeten, terkenal, tokoh dan gelar wah lainnya. Sebenarnya tidak salah sih melakukan hal tersebut. Namun setelah saya nekat buat baca buku karangan Bayu Gawtama ini banyak hal yang saya pelajari tentang kehidupan ini. Kisah-kisah sederhana yang disampaikannya bersumber dari pengalaman pribadi beliau. Mungkin beliau belum menjadi tokoh, namun menurut saya tulisan beliau pantas untuk diambil hikmahnya. Jadi kalo boleh saya simpulkan bahwa janganlah kita melihat suatu pesan dari orang yang menyampaikan, namun lihat dan pahami apa yang disampaikannya. Jika memang benar adanya, meskipun yang menyampaikan seorang preman atau seorang pemulung pun setidaknya kita bisa ambil hikmah dari apa yang disampaikan. Begitu juga dengan apa-apa yang pernah saya sampaikan di blog ini. Karena sang penulis sendiri memang bukan tokoh apa-apa. Penulis senantiasa berharap bisa memberi manfaat meski lewat tulisan. amin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2014 in Nasihat dan Renungan

 

Sebuah Ulasan Buku – “Winning with Passion”

Born to Win

Enam Blueprint Winning with Passion :

1. Winning Mind-Set : berprasangka baik kepada Tuhan bahwa setiap usaha dan doa akan dikabulkan dengan memberikan yang “terbaik”. Selain itu, kita harus memiliki mind-set yang positif ketika memandang berbagai hal dan permasalahan yang dihadapi.

2. Winning Behavior : membangun sebuah perilaku yang positif sehingga membentuk dan menjalankan perilaku layaknya seorang juara : jujur, unggul, amanah, risk-taker, rendah hati dan adil.

3. Winning Attitude in Change : mampu melihat, mengamati, dan terlibat aktif dalam suatu perubahan dari sudut pandang passion seorang juara.

4. Winning Mentality : membangun mental dan passion layaknya seorang juara, berpendirian teguh dalam kebenaran dan mampu menyalakan api kehidupan mengenai potensi diri, serta berkarya menjadi mulia.

5. Winning Way : usaha untuk mencapai harapan dengan menerapkan langkah dan metode sistematis yakni dengan melakukan Niat, Doa, Ikhtiar, Pasrah, Syukur, Ikhlas (NDIPSI).

6. Winning System : mencoba untuk menetapkan impian dan sasaran yang SMART (Specific, Measureable, Agreeable, Realistic, Traceable) sejelas-jelasnya hingga dapat diwujudkan

 

(merupakan ulasan dari Buku “Winning with Passion” 6 Blueprint Pribadi Kaya dan Sukses, karya Jimmy Gani dan Ervin Agung Priambodo terbitan Jakarta: Esensi tahun 2011, )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Mei 2014 in Pengembangan Diri

 

Rute Bus Kota Solo (BST)

Bus kota di Solo atau Surakarta secara bertahap akan diatur menjadi 8 koridor. Berikut rute masing-masing koridor :

Koridor 1 (Bandara Adisoemarmo-Palur PP)
Bandara Adi Soemarmo – Terminal Kartasura – Jl. Ahmad Yani – Jl. Slamet Riyadi – Jl. Jendera Sudirman (Balai Kota) -Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Kol. Sutarto – Jl. Ir Sutami – Terminal Palur.

Terminal Palur – Jl. Ir. Sutami – Jl. Kol. Sutarto – Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Bhayangkara – Jl. Radjiman – Jl. Wahidin – Jl. Slamet Riyadi – Jl. Ahmad Yani – Terminal Kartasura – Bandara Adi Soemarmo.

Koridor 2 (Kartasura-Palur PP) via Stasiun Balapan
Terminal Kartasura – UMS – Solo Square – Stasiun Purwosari – Gendengan – Lap. Kota Barat – Mall Solo Paragon – Monumen Pers – Stasiun Balapan – RS Triharsi (Jl. Monginsidi) – SD Cemara 2 – SMAN 1 – Hotel Asia – RSUD dr. Moewardi – UNS – Jurug – Terminal Palur.

Arah sebaliknya melewati rute yang sama.

Sekolah-sekolah yang dilewati bus jalur ini adalah: SMA Batik 1, SMAN 1 dan SMAN 2 Surakarta, SMK Kristen, SMP dan SMA Warga. Dengan dioperasikannya BST Koridor 2 ini, maka operasional bus kota (ATMO) yang selama ini melayani rute Kartasura – Palur akan dicabut dan dialihkan ke koridor yang lain.

Koridor 3 (Kartasura – Palur PP) via Makamhaji

Terminal Kartasura – Makamhaji – Baron (Jl Radjiman) – Jl Bhayangkara – Tipes (Jl Veteran) – Gemblegan – Jl Yos Sudarso – Jl Slamet Riyadi – Gladak – Pasar Gedhe – Jl Urip Sumoharjo – Panggung – Jebres – Jl Ir Sutami – Palur

Terminal Palur – Jl Ir Sutami – Jebres – Panggung – Jl Urip Sumoharjo – Jl Jenderal Sudirman – Klewer – Jl Radjiman – Baron – Makamhaji – Kartasura

Koridor 4 (Kartasura – Solo Baru PP)

Kartasura – Jl Adi Sucipto – Jl Dr Moewardi – Jl Yosodipuro – Jl Gajah Mada – Jl Honggowongso – Jl Brigjen Sudiarto – Solo Baru

Solo Baru – Jl Wahid Hasyim – Jl Veteran – Jl Yos Sudarso – Jl Slamet Riyadi – Jl Jensud – Jl Ronggowarsito – Jl Sugiyono – Jl Yosodipuro – Jl Adi Sucipto – Manahan – Kartasura

Koridor 5 (Mojosongo – Tirtonadi PP)

Mojosongo – Perempatan Kandangsapi – Jl Tentara Pelajar – Tugu Cembeng – Jl Kol Sutarto – Panggung – Jl Urip Sumoharjo – Pasar Gedhe – Jl Jenderal Sudirman – Jl Kapten Mulyadi – Baturono – Jl Veteran – Tipes – Baron – Jl Radjiman – Jl Agus Salim – Kerten – Jl Ahmad Yani – Terminal Tirtonadi – Gilingan – Perempatan Kandangsapi – Mojosongo

Koridor 6 (Kadipiro – Semanggi PP)

Kadipiro – Jl Kapten Tendean – Jl Ahmad Yani – Jl S Parman – Jl Gajah Mada – Jl Honggowongso – Jl Veteran – Jl Kyai Mojo

Semanggi – Jl Kyai Mojo – Jl Veteran – Jl Honggowongso – Jl Gajah Mada – Jl S Parman – Jl Ahmad Yani – Jl Tendean – Kadipiro

Koridor 7 (Palur – Solo Baru PP)

Palur – Jl Ir Sutami – Kentingan – Jl HOS Cokroaminoto – Jl Surya – Jl Ir Juanda – Jl Jenderal Sudirman – Jl Ronggowarsito – Jl Teuku Umar – Jl Yos Sudarso – Gemblegan – Solo Baru

Solo Baru – Jl Wahid Hasyim – Jl Brigjen Sudiarto – Jl Veteran – Perempatan Sraten – Jl Gatot Subroto – Singosaren – Jl Slamet Riyadi – Jl Jenderal Sudirman – Jl Ir Juanda – Jl Surya – Jl Ir Sutami – Palur

Koridor 8 (Palur – Tirtonadi PP)

Rute baru yang sebelumnya sampai kartasura namun sekarang dipangkas (masih bersifat sementara) meliputi Palur – Jebres – Panggung – Terminal Tirtonadi – Manahan – Jl Adi Sucipto – Perempatan Jajar (Fajar Indah) – Pertigaan Farokah – Jl Slamet Riyadi – Pertigaan Kerten – kembali ke Tirtonadi.

Catatan : untuk koridor 1 dan 2 sudah menggunakan bus baru, sedangkan sisanya menggunakan bus kota yang sudah ada (ATMO,NUSA,Surya Kencana)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2014 in Jejak Petualangan

 

Rute Bus Sekolah Bandung

Terdapat dua rute Bus Sekolah di Bandung yang diluncurkan Pemkot Bandung yaitu rute Antapani-Ledeng dan Dago-Leuwipanjang.

1. Jurusan Antapani – Ledeng

Berangkat dari Terminal Antapani melewati Jalan Terusan Jakarta – Jalan Jakarta – Jalan Supratman – Jalan Lapang Supratman – Taman Pramuka – Jalan LRE Martadinata(RIAU) – Jalan Merdeka (BIP–Balai Kota) – Jalan Wastu Kencana – Jalan Pajajaran – Jalan Cipaganti – Jalan Setiabudi dan berakhir di Terminal Ledeng.

Arah sebaliknya, Jurusan Ledeng – Antapani dari Terminal Ledeng, bus akan melewati Jalan Setia Budi – Jalan Cihampelas – Jalan Wastu Kencana – Jalan LRE Martadinata (RIAU) – Jalan Ahmad Yani – Jalan Ibrahim Adjie (Cicadas) – Jalan Terusan Jakarta dan sampai di Terminal Antapani.

2. Jurusan Dago – Leuwi Panjang

Jurusan Dago – Leuwi panjang berangkat dari Terminal Dago akan melewati Jalan Ir Djuanda – Jalan Merdeka (BIP–Balai Kota) – Jalan Tamblong – Jalan Lembong – Jalan Lengkong Besar – Jalan Lengkong Kecil – Jalan Inggit Ganarsih – Jalan Otista – Jalan Peta – Jalan Leuwi Panjang dan berakhir di Terminal Leuwipanjang.

Arah sebaliknya, dari Terminal Leuwi Panjang akan melewati Jalan Peta – Jalan M.Ramdan – Jalan Karapitan – Jalan Sunda – Jalan Sumbawa – Jalan Belitung – Jalan Sumatera – Jalan Aceh – Jalan Seram – Jalan LRE Martadinata(RIAU) – Jalan Ir Djuanda dan sampai ke Terminal Dago.

Waktu operasi bus sekolah ini akan terbagi menjadi 3 shift yaitu

1. pukul 05.00 – 07.30 WIB,

2. pukul 11.00 – 14.00 WIB,

3. pukul 16.00 – 18.30 WIB.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2014 in Jejak Petualangan

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.